RSS

Baby’s Book

Artikel berikut ditulis oleh Clara Ng, seorang penulis novel. Sumber : #babybook.

Banyak yang tanya, “Bagaimana kenalin buku buat bayi, Mbak?” Ini utang terakhirku untuk #readingmilestone tingkat bayi 0-1 tahun. Tagarnya #babybook.

Prinsipnya, memperkenalkan buku kepada bayi sama dengan memperkenalkan bahasa kepadanya. Reading skills = language skills. #babybook.

The beginning of language is started long before a baby is born. Bicara sama bayi waktu masih di perut = memperkenalkannya dengan bahasa. #babybook.

Usia 0-1 tahun adalah usia paling ajaib. Menurutku, inilah saatnya menyaksikan pertunjukan mahakarya how the language is born. #babybook.

Pertunjukkan keren ini tidak bisa dinikmati hanya dengan sit back and do nothing. Orang tua harus benar-benar terlibat dalam memperkenalkan buku dan bahasa #babybook.

Usia 0-3 bulan, bayi belum bisa dan  gak tertarik menyentuh buku. Tapi dia akan melirik gambar. Tunjukkan gambar2 sambil bernyanyi atau ngomong. #babybook.

Bayi 0-3 bulan akan tenang dengan suara ibu. Nyanyian & irama adalah cerita pertama yang dimengertinya. Dia sadar dengan lagu yang diulang-ulang terus-terusan. #babybook.

Usia 4-6 bulan, bayi mulai mampu dan tertarik menyentuh buku. Kasih buku-buku mungil yang terbuat dari kain, bahan flannel, board keras. #babybook.

Dia akan mulai menginvestigasi buku. Biarkan dia melakukannya. Bayi akan mengeluarkan suara-suara lucu kalau dibiarkan “ngobrol” dengan buku. #babybook.

Usia 6-12 bulan, dia sudah bisa menyukai buku. Ajarin dia membalik halaman dan bersama-sama tunjuk dan membelai gambar. #babybook.

Dia akan memperlakukan buku seperti barang mainannya. Gabungkan buku di kotak mainannya sehingga dia mengerti kalau buku = fun stuffs. #babybook.

Kalau membacakan buku untuk si 6-12 bulan, tunjuklah gambar lalu tanya, “Apa ini? Apa itu?”. Bayi gak tertarik pada CERITA, tapi pada GAMBAR. #babybook.

Sekitar 1+ tahun, ciptakan jam rutin baca bareng. Bisa sebelum tidur, sesudah bangun, atau habis makan. Inilah awal dari life long of reading habit. #babybook.

Kalau mulai mendongeng, cari cerita-cerita yang pendek saja. Singkat. Gak perlu yang panjang-panjang. Yang penting bergambar, penuh warna ceria. #babybook.

Kenapa bayi perlu dikasih buku? When you read to kids, they’re getting your full attention. Nothing (TV & Ipad) is better than that. #babybook.

Reading to babies is a great way to immerse them in the sounds and rhythms of speech. Penting untuk perkembangan berbahasa. #babybook.

Ortu biasanya cemas kalau anaknya telat bicara. Read them books to boost and speed up their language abilities! #babybook.

Akhirnya selesai juga utangku di Twitter hehe. Sudah kelar jelasin mapping #readingmilestone dari bayi 0 thn sampai remaja 18 thn. #babybook.

Ketrampilan membaca dimulai dari prkenalan bahasa kepada bayi, climbing up all the way to teens. As parents, we can’t leave them alone. #babybook.

That’s all, tweeps 🙂 #babybook.

 
 
Leave a comment

Posted by on July 21, 2013 in Reading

 
Link

Download Murottal untuk Pengajaran

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2013 in Al-Qur'an

 

Kurikulum untuk Homeschooling

Berikut adalah tautan yang bisa dijadikan rujukan untuk menyusun kurikulum homeschooling :

 
Leave a comment

Posted by on February 29, 2012 in Matematika

 

Habit Training

Habit training adalah penanaman kebiasan baik secara terencana. Menurut Charlotte Mason, habit training menyumbang sepertiga dari urusan pendidikan karakter. Sepertiga yang lain disumbang dari atmosfir (teladan orang-orang sekitar), dan sepertiga terakhir disumbang dari inspirasi ide-ide berharga (living books dan living ideas lainnya). Kebiasaan baik yang perlu ditanamkan adalah antara lain : mengasah kekuatan kehendak (the way of the will), ketajaman nalar, dan kedekatan hubungan dengan Tuhan secara personal. Itulah prinsip-prinsipnya. Soal teknis, Charlotte Masson menyerahkan kepada para orang tua untuk menemukan sendiri sesuai kepribadian anak yang dihadapi.

Dalam perspektif Charlotte Mason, disiplin itu ibarat menata potongan-potongan rel tempat kereta dengan gerbong-gerbongnya melaju. Tanpa arahan jelas dan terencana dari orangtua, berbagai kebiasaan berpikir dan bertindak yang keliru berebut tempat dengan kebiasaan-kebiasaan baik untuk menetap dalam karakter anak. Jika relnya terpasang acak-acakan, gerbong kehidupan anak akan berjalan tersendat-sendat, menubruk ke sana kemari akibat keputusan-keputusan yang keliru. Kalaupun ia cukup beruntung untuk sampai ke tujuan, banyaklah waktu dan kesempatan hidupnya yang terbuang sia-sia. – Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 94-111 (14).

Orangtua yang melihat arah tujuannya dan inti penuh kuasa dari metodenya, akan bisa memanfaatkan setiap situasi dari kehidupan sehari-hari anak sebagai kesempatan mendidik dan ia tidak harus merancangnya secara sengaja, begitu mudah, dan spontan. Entah anak sedang makan atau minum, entah ia sedang di rumah atau di perjalanan, saat dia bermain, selalu ia dalam proses pendidikan sepanjang waktu.” (Vol. 1, hlm. 9)

Kenalkan anak dengan ide-ide besar sampai pada tahap terinspirasi, jangan sampai pikiran anak terlalu dipenuhi dengan ide-ide ‘rendah’ yang dia dapatkan dari atmosfir rumah dan lingkungannya. Baru setelah anak pada tahap terinspirasi ini, akan muncul motivasi internal untuk berubah, lalu mulailah proses habit training ini. Keuntungan dari pembiasaan ini ada baiknya dikenalkan kepada anak untuk memotivasinya.

Habit training tidaklah cukup dengan sekedar meneladankan kebiasaan baik, tetapi orangtua juga harus melatihkannya secara konsisten, bertujuan, dan terencana. Kebiasaan apa yang ingin kita lihat ada dalam diri anak ? latihkanlah satu demi satu. Kalau satu kebiasaan sudah mantap, latihkanlah kebiasaan baik satunya lagi, dan seterusnya.

Pada prakteknya, penanaman kebiasaan baik ini merupakan pekerjaan yang perlu usaha keras. Namun, hal ini layak untuk diperjuangkan demi buah yang manis di kemudian hari. Habit training merupakan suatu bentuk sumbangan orangtua demi kebaikan masa depan anak-anak. Penanaman kebiasaan baik ini akan jauh lebih mudah jika si anak mempunyai kehendak yang sama dengan orangtua. Oleh karena itu, diperlukan dialog untuk mengenalkan ide tersebut. Jika si anak kemudian lupa dalam mempraktekkannya, si ibu bisa memberikan sedikit koreksi tanpa omelan. Misal ketika anak lupa untuk menutupkan pintu setelah masuk rumah, si ibu bisa memanggil anaknya secara baik-baik dan memberi sedikit petunjuk dengan melirik pintu yang terbuka. Akan lebih baik lagi jika diawal komitmen dengan anak dimintai ijin bahwa jika dia lupa, si ibu boleh mengingatkan.

Seorang murid saya di bulan-bulan terakhir dia sekolah datang ke rumah saya hampir tiap hari untuk les. Hingga akhirnya dia lulus sekolah dan mulai kuliah. Suatu hari dia katakan kepada saya, dia keluar rumah dan tanpa dia sadari dia telah berada di kompleks perumahan dimana saya berada. Inilah yang dimaksud dengan pembiasaan-pembiasaan itu. Karena telah terbiasa, tubuh mengontrol setiap gerak secara otomatis, yang kadang tanpa harus dipikirkan.

Metode Omelan dalam proses pembangunan kebiasaan baik selalu gagal mencapai tujuan. Mengapa omelan selalu tidak berhasil ? Ceritanya begini.. Syaraf akan menerima perintah, lakukan apa yang ibumu perintahkan. Jadi ketika tidak ada omelan, syaraf tidak akan memberi sinyal bahwa anak harus melakukan sesuatu. Anak bukan terbiasa dengan suatu kebiasaan baik tapi terbiasa untuk menerima perintah yang berbentuk omelan. Beda lagi jika semua ini dilakukan dengan perbincangan yang lebih sehat, misal “Ibu berjanji untuk selalu mengingatkanmu kan? :)” sambil memberi sedikit petunjuk atas apa yang anak lupakan.

Bagaimana jika si ibu merasa bahwa dirinya sendiri masih bermasalah dengan suatu kebiasaan baik yang ingin ditanamkan pada si anak? Charlotte Mason berpendapat bahwa tidak ada istilah terlambat bagi orang dewasa untuk mulai belajar menanamkan kebiasaan baik pada dirinya di usia berapapun. Dan justru inilah saatnya untuk mengenalkan anak atas konsep .. “Nobody is perfect”

Menghidupkan idola bisa menjadikan dorongan positif untuk anak dalam proses pembangunan kebiasaan baik ini. Idola ini bisa diambil dari buku-buku living books atau orang-orang di sekitar kita.

Banyak hal yang kita lakukan berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan bertahun-tahun. Karena telah terbiasa ini, maka kita tidak memerlukan lagi proses berpikir untuk melakukannya, dan tidak pula menimbulkan tekanan. Disadari atau tidak, dalam sehari kita telah memutuskan mungkin ratusan keputusan bahkan ribuan, misal : bagaimana cara kita menyikat gigi, kaki mana pertama kita langkahkan keluar rumah, disisi tempat tidur mana kita tidur, dan sebagainya. Semua keputusan itu telah kita ambil tanpa merepotkan pikiran kita lagi untuk memutuskannya.

Hal yang sama dengan anak-anak, ketika karakter patuh sudah tertanam, maka dia tak perlu lagi bingung memutuskan “Apakah aku harus melakukan apa yang ibuku minta ? kapan? Aku lakukan sebagian aja kali ya ? bagaimana kalau aku gak patuh ya ?”

Membangun suatu kebiasaan baik hingga kebiasaan tersebut terimplementasi tanpa paksaan atau suruhan secara rutin akan membentuk suatu karakter yang baik di kemudian hari. Menurut Charlotte Mason, Karakter yang diwariskan oleh keluarga bisa diruntuhkan dengan pembangunan kebiasaan-kebiasaan baik ini. Karakter adalah hasil dari suatu kebiasaan. Seseorang dikenal sebagai orang berkarakter jujur karena dia sudah terbiasa berbuat jujur, bukan karena dia berlaku jujur pada saat itu saja.

Charlotte Mason mengajarkan keaktifan orangtua untuk membangun kebiasaan-kebiasan baik ini demi terwujudnya karakter yang diinginkan terbentuk pada diri si anak. Disadari atau tidak, setiap anak akan membangun kebiasaan-kebiasaan alami-nya sendiri. Jika tidak ada usaha untuk menanamkan kebiasaan baik, maka secara alami anak akan menjalani kebiasaan buruk.

Charlotte Mason mendefinisikan 60 kebiasaan baik, yaitu antara lain :
Decency and Propriety habits
1. Cleanliness
2. Courtesy
3. Kindness
4. Manners
5. Modesty and Purity
6. Neatness
7. Order
8. Regularity
(Mentioned only)
9. Candor
10. Courage
11. Diligence
12. Fortitude
13. Generosity
14. Gentleness
15. Meekness
16. Patience
17. Respect
18. Temperance
19. Thrift
Mental Habits
20. Attention
21. Imagining
22. Meditation
23. Memorizing
24. Mental Effort
25. Observation
26. Perfect Execution
27. Reading for Instruction
28. Remembering
29. Thinking
(Mentioned only)
30. Accuracy
31. Concentration
32. Reflection
33. Thoroughness
Moral Habits
34. Integrity (Priorities, Finishing, Use of Time, dan Borrowed Property)
35. Obedience
36. Personal Initiative
37. Reverence
38. Self-Control
39. Sweet, even Temper
40. Truthfullness
Physical Habits
41. Usefulness
42. Alertness to Seize Opportunities
43. Fortitude
44. Health
45. Managing One’s Own Body
46. Music
47. Outdoor Life
48. Quick Perception of Senses
49. Self-Control in Emergencies
50. Self-Dicipline in Habits
51. Self-Restraint in Indulgences
52. Training the Ear and Voice
dan selanjutnya berkaitan dengan ibadah agama kristen sesuai dengan agamanya Charlotte Mason.

Diambil dari :

  1. Serpihan-serpihan diskusi tentang Konsep Pendidikan ala Charlotte Mason yang dipandu oleh Ellen Christi
  2. Smooth and Easy Days

 
Leave a comment

Posted by on February 28, 2012 in Charlotte Mason

 

Living Books

Buku-buku yang termasuk kategori Living Books (LvB) biasanya ditulis oleh seseorang yang mempunyai minat besar terhadap topik buku tersebut dan ditulis dengan model percakapan dan gaya narasi. Buku-buku tersebut akan menarik kita ke dunia yang dijabarkan buku tersebut bahkan sampai mampu melibatkan emosi kita lebih jauh. Hal ini membuat kita mudah mengingat kejadian-kejadian dan fakta yang diuraikan didalamnya. LvB membuat materi bahasan menjadi hidup. LvB sangat berbeda dengan tulisan-tulisan kering, yang biasanya ditemukan di kebanyakan ensiklopedia atau textbook-textbook, yang menguraikan informasi fakta dalam bentuk ringkasan. Anak-anak perlu membaca buku secara utuh, mendalam, dan perlahan sehingga mereka kemudian dapat memahami dan menarasikannya dengan baik. LvB bisa ditemukan dalam berbagai materi pelajaran bahkan materi seperti matematika, geografi, dan ilmu pengetahuan alam.


Gambar diambil dari sini.

Buku berkualitas tinggi yang bisa membius pembacanya diharapkan bisa memperpanjang rentang waktu minat anak terhadap buku supaya tidak lekas padam. Penting digarisbawahi bahwa buku kategori LvB harus memakai kaidah bahasa yang benar.

Charlotte Mason berharap materi apapun yang diberikan adalah materi yang menantang anak untuk mengerahkan segenap kemampuan otaknya. Patokannya bukanlah apa yang anak bisa kerjakan, tetapi apa yang anak seharusnya bisa kerjakan.

Charlotte Mason menolak buku yang membuatkan kesimpulan untuk para pembacanya. Itu sebabnya ia lebih menyukai gaya penulisan narasi atau bercerita, karena lewat cerita yang bagus, pembaca bisa menyerap nilai-nilai tanpa harus dieksplisitkan nilai-nilai itu apa. Diharapkan pembaca bisa memperoleh makna yang lebih kaya dibandingkan yang semula direncanakan oleh pengarang.

Menurut Charlotte Mason, sepertiga urusan pendidikan karakter disumbang oleh atmosfer (teladan orang-orang sekitar), sepertiga oleh habit training (penanaman kebiasaan baik secara terencana), dan sepertiga lagi dari inspirasi ide-ide berharga (living books & living ideas lainnya).

Proses pengumpulan buku-buku yang masuk kategori LvB (atau setidaknya mendekati konsep ini dan mampu menginspirasi anak-anak untuk berbuat baik) dan sesuai dengan kaidah agama islam mungkin akan memakan waktu seumur hidup saya. Ada yang minat untuk ikut merancang pustaka cerita tokoh-tokoh islam masa lalu yang bisa menginspirasi anak-anak muslim? 🙂

Diambil dari :

  1. Serpihan-serpihan diskusi tentang Konsep Pendidikan ala Charlotte Mason yang dipandu oleh Ellen Christi
  2. Amblesideonline
 
Leave a comment

Posted by on February 20, 2012 in Charlotte Mason

 

Notebooking

Konsep notebooking hampir mirip dengan konsep buku catatan yang kita buat ketika kita sekolah dulu. Bedanya, notebooking dibuat sekreatif mungkin sehingga diharapkan bisa lebih menarik minat anak. Hasil dari proses notebooking adalah kumpulan dari berlembar-lembar catatan yang kemudian bisa disatukan dalam satu binder dengan misal tiga lubang, lantas dijilid, jadilah ia sebagai satu bentuk portofolio si anak.

Dengan buku tulis, kita langsung bisa menulis apapun didalamnya. Notebooking, kita reka seperti apa tampilan si kertas, apakah dalam bentuk halaman bergaris seperti halnya buku tulis ? Ataukah akan disisipkan dengan gambar yang berkaitan dengan topik yang akan kita bahas ? Font judul dan sebagainya bisa direka sesuai dengan keinginan kita. Setelah itu baru dicetak dan bisa mulai dipakai sebagai buku catatan hasil pembelajaran anak.

Berikut adalah contoh notebooking yang saya ambil dari Imaan.net,

 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2012 in Tools Belajar

 

Narasi

Narasi adalah pengisahan kembali suatu cerita atau kejadian.

Charlotte Mason sangat menganjurkan metode narasi ini dalam proses pembelajaran. Dengan pertimbangan, jika seorang anak tahu bahwa dia akan menarasikan apa yang dia dengarkan atau perhatikan, maka si anak akan memberikan perhatian lebih.

Charlotte memberikan ilustrasi. Seorang dokter mengunjungi seorang pasien di rumah sakit. Pasien tersebut dalam kondisi yang sangat kesakitan, lalu si dokter menuliskan resep dalam selembar kertas. Dia berkata bahwa obat tersebut akan mengurangi rasa sakit, tapi dia akan memperlihatkan kertas itu hanya untuk beberapa menit saja. Setelah itu, kertas akan dihancurkan dan si dokter menolak untuk menuliskan kembali untuknya. Bisakah kita bayangkan perhatian seperti apa yang si pasien akan berikan terhadap kertas tersebut ? Perhatian seperti itulah yang Charlotte harapkan dari seorang anak terhadap bacaan dia.

Bacakan suatu artikel di depan anak-anak dengan lama waktu disesuaikan dengan kondisi anak-anak tersebut. Sangat penting untuk mendapatkan perhatian penuh selama artikel itu dibacakan. Tidak perlu berhenti untuk menjelaskan lebih lanjut suatu kata. Anak-anak pada umumnya akan memahami maksud kalimat atau paragraf tersebut. Setelah selesai baru minta satu anak untuk menarasikan.

Anak-anak bisa memulai metode narasi ini di usia 6 tahun dan melakukannya dengan cara lisan. Pengajar mendengarkan cerita dia, dan dia tidak perlu untuk mengkritik apa-apa yang salah. Tetapi, boleh saja si pengajar memancing-mancing pada bagian-bagian tertentu dengan maksud agar si anak ingat kembali. Charlotte percaya bahwa kemampuan menarasikan secara lisan (kemampuan berbahasa) akan sendirinya tumbuh secara alami rajin berlatih. Tetapi jika ada anak lain yang mengoreksi, ya tak apa-apa.

Narasi dalam bentuk tulisan bisa dimulai di usia 10 tahun. Berikan waktu sebanyak yang mereka butuhkan untuk menjalani proses transisi dari lisan ke bentuk tulisan. Lagi-lagi, Charlotte tidak membolehkan kritikan atas tulisan si anak. Kemampuan menulis (mengeja / tata bahasa) akan berkembang juga secara alami dengan lebih banyak berlatih. Harus diperhatikan bahwa narasi bukan untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan si anak.

Disarikan pelajaran yang disampaikan oleh Ellen Kristi dan dari buku :

 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2012 in Charlotte Mason